Postingan

Politik Identitas VS Nalar Kebenaran

Gambar
Oleh Kukuh Setyono Dalam diskusi yang diselenggarakan pelaku Reformasi 1998 'Melanjutkan Tugas Kebangsaan Kita',  minggu lalu di Bantul. 21 tahun kehadiran reformasi yang dulu menuntut keadilan dan kesejahteraan rakyat ternyata saat ini menghadapi musuh yang sangat berbeda. Politik Identitas dinilai menjadi musuh nyata sekarang dihadapi anak bangsa ditengah rongrongan korupsi yang mengarah pada jual beli kewenangan. Politik Identitas ini mengusung agama sebagai tameng memerangi konsensus negara berbangsa yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran. Mereka sepakat, bahwa politik identitas yang sekarang ini sudah merasuki dunia pendidikan adalah hasil dari politik berbiaya tinggi yang dilakukan para elit politik untuk meraih kekuasaan. Partai politik 21 tahun ini dinilai gagal menghadirkan kader partai yang mampu menjaga marwah, semangat reformasi sesuai dengan konsensus kebangsaan yang disepakati Bapak Bangsa jaman revolusi. Selain merusak kesatuan masyarakat Indonesi...

Bapak Tua dan Genteng

Gambar
Kalian percaya begitu saja pada omongan bapak tua yang biasa duduk di warung itu. perlu kalian ketahui, bapak tua itu sudah bertahun-tahun tidak melakukan aktifitas yang menghasilkan pendapatan. kerjanya hanya duduk-duduk saja di depan warung. Dia lebih banyak mengharap belas kasihan dari penggunjung entah itu segelas minuman, sebatang rokok, atau uang tunai sebagai ongkos menjagakan kendaraan mereka. untuk makan, pemilik warung masih berbesar hati memberinya makan dengan lauk termurah atau sisa makanan yang tidak habis terjual. Keingintahuanmu soal siapa bapak tua itu sangatlah wajar dan banyak orang yang menanyakan hal yang sama. Tapi sekali lagi, sama sekali tidak ada yang tahu siapa dan dari mana dia berasal. Yang selalu diingat banyak orang kedatangan bapak tua itu diiringin hujan lebat, angin kencang, dan mati listrik pada malam sebelumnya.  Pagi-pagi semua orang terkejut karena bapak tua itu sudah meringkuk depan pintu masuk warung dengan kondisi setengah te...

Norma Tersembunyi Jilbab Dalam Tata Tertib Sekolah

Gambar
Sejak kasus putri saya yang dipaksa berjilbab di SD Bibis, Kasihan, Bantul. Saya cenderung diam. Bukan karena tidak ingin semangat protes keras terhadap aturan yang keluar dari pakemnya. Namun saya sementara ini mencoba berdamai dengan diri sendiri untuk kebahagiaan putri saya. Namun apa yang terjadi pada Kamis (7/2) membuat saya kembali terhenyak. Permasalahan ‘tersirat mewajibkan’ jilbab terulang kembali. Kali ini menimpa SMPN 8 Kota Yogyakarta. Selengkapnya baca ; https://www.gatra.com/rubrik/nasional/pemerintahan-daerah/388345--ORI-Minta-SMPN-8-Yogyakarta-Revisi-Keharusan-Siswi-Muslim-Berjilbab Kasus ini bagi saya menarik. Tentang bagaimana para pengelola sekolah umum, terutama sekolah negeri mengakali aturan di atasnya untuk mengharuskan siswi muslim yang bersekolah di sana memakai seragam jilbab. Seperti diketahui, aturan tentang seragam sekolah secara nasional sudah diatur dalam Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) bernomor 45 tahu...

Jangan-jangan Agni/AL/AN Fiktif?

Setelah mengikuti perkembangan kasus dugaan pelecehan/perkosaan UGM yang menimpa Agni alias AL alias AN dengan terlapor HS. Saya malah meragukan keberadaan. Diberitakan pertama oleh perma Balairung, kasus ini berkembang luas dan menjadi perhatian publik. Lambatnya langkah UGM dalam menyelesaiakan kasus ini secara internal, membuat kasus ini menimbulkan efek domino yang tiada henti dari semua penjuru. Media yang bermerek, meminjam istilah dari Direktur Direskrimum Polda DIY Kombes Hadi Utomo, tidak mendapatkan kebebasan akses ke dan dari manapun. Entah dari Balairung, UGM, polisi, maupun lembaga oendamping yang berasal dari Rifka Annisa. Keterbukaan malah berasal dari Tommy yang menyatakan diri sebagai kuasa hukum HS. Dan itu wajar. Ketika kasus ini berakhir dengan 'kesepakatan penyelesaian'. Perlu dicatat, menurut pendamping, Agni keberatan dengan istilah 'damai'. Kok bola panas ini masih terus mengelinding. Polda menyatakan tidak menemukan indikasi peleceha...

Saya Memilih Jongkok Tinimbang Duduk

Pada dunia twitter. @Puthutea pada 04.56 - 5 Des 2018 menuliskan: Luur, dalam hal perngisingan, kowe modele kaya wong apa? Model wc duduk, wc jongkok, apa model ‘plung lap’ neng kali kae? Aku asline seneng sing model ‘plung lap’, apamaneh nek kaline resik, berbatu, karo udud, tur neng ngisor akeh iwak2 sing siap nampani. Damai... Membaca ini saya tertawa sendiri dalam hari. Saya tidak merettwit atau berkomentar. Saya berpikir ini akan menjadi bahan dalam tulisan blog. Sebuah pertanyaan sederhana yang saya kira akan jamak diajukan kepada masyarakat kita. Masyarakat yang memiliki anugerah terbesar di dunia, melimpahnya air sehingga mengakibatkan banyaknya sungai. Tentu saja, sungai dalam sejarah kebudayaan manusia adalah sumber hadirnya kehidupan manusia. Banyak sejarah menyatakan, sepanjang sungai merupakan tempat tinggal terbesar dan terbanyak manusia. Manusia menjadi sungai sebagai sumber kehidupan dan wadah aktivitas keseharian. Sebagai sumber air minum. Sebagai tempat menc...

Kebohongan Akan Kebenaran, Dimaafkan Tetapi Tidak Dilupakan

Melihat media sosial dan internet sekarang ini saya tidak akan pernah mengeluhkan keberadaan berita bohong yang begitu banyak tersebar. Kebohongan seperti sebuah penyakit menular yang menjangkiti setiap masyarakat. Bagi saya, melakukan melakukan kebohongan pada dasarnya merupakan satu dari banyaknya keinginan dalam menjalani kehidupan. Tentu saja, saya tidak akan pernah menjadikan masalah saat sebuah kebohongan dilakukan orang lain pada diri saya sendiri atau katakanlah satu individu saja. Sebab maaf menjadi pintu masuk untuk berhubungan kembali meski tidak bisa dilupakan. Tetapi bagaimana jika kebohongan itu dilakukan kepada publik? Apakah hanya cukup akibat yang ditimbulkan diselesaikan dengan permintaan maaf saja. Cerita pengembala domba dan petani yang disampaikan dalam serial ‘Upin-Ipin’ menjadi gambaran jelas bagaimana karma yang timbul akibat melakukan kebohongan. Dimaafkan tetapi tidak dilupakan. Dimaafkan tetapi tidak bisa dipercaya.   Sekarang ini, kebohongan ...

Matematika dan Nalar Kita...

Gambar
           Menginjak catur wulan ke dua kelas dua SMA, saya memutuskan tidak lagi menyenangi matematika. Padahal sebelumnya saya bergairah ketika mata pelajaran ini dimulai. Bukan karena kemampuan otak saya yang buntu.             Namun keputusan saya lakukan dengan cepat karena guru pengajar ilmu hitung ini sangat tidak interaktif dalam memberikan bahan pengajaran. Selama dua jam mata pelajaran yang diampunya, guru pria ini sama sekali tidak menoleh ke belakang. Menatap lurus ke depan, ke papan tulis sambil bicara sendiri dan menulis berbagai rumus.             Saya juga menilai dia diskriminasi. Hanya siswa-siswi pintar ber-matematika saja yang diperhatikan. Sedangkan yang lain, terlebih deretan bangku belakang tidak pernah dihiraukan sama sekali. Guru ini tidak pernah mempedulikan siswa yang lain bisa apa tidak. Yang penting dia mengajar, d...