Sepertinya Saya Sudah Lupa Membaca Koran
Dalam sepekan terakhir ini, saya dua kali bermimpi sedang membaca koran kembali dengan tenang. Melahap semua rubrik yang disajikan di berbagai halaman, persis seperti yang saya lakukan dahulu.
Hari ini saya sulit menemukan koran, kecuali dengan meminjamnya di kantor pemerintahan. Koran seperti sulit didapatkan. Kalaupun ada, harganya begitu mahal.
Mungkin engkau akan menuding saya munafik karena saya sebenarnya juga dilahirkan dari perusahaan penerbit koran. Namun, kalian harus tahu, beritanya boleh sama, tetapi cara penyajiannya yang membuat rasanya berbeda. Dan itu hanya saya peroleh dari satu koran.
Bagaimana dengan koran lainnya? Saya tidak ingin menghakimi. Namun, saya kesulitan menemukan rubrik-rubrik yang ingin saya baca.
Tiga tahun lalu saya masih berlangganan koran, dan itu menjadi sebuah kebanggaan karena hanya sayalah yang berlangganan koran di lingkungan tempat tinggal saya. Namun, karena harga dan pendapatan saya tidak lagi seimbang, akhirnya saya hanya bisa berlangganan secara online.
Membaca koran online semakin menegaskan sifat individualistis, karena hanya bisa dibaca satu orang dan tidak memungkinkan untuk diakses bersama-sama. Berbeda dengan koran cetak; satu eksemplarnya dapat dibaca oleh banyak orang pada waktu yang berbeda.
Karena itu, koran dikategorikan sebagai media massa, sama seperti televisi dan radio. Jumlah pembaca, penonton, dan pendengarnya tidak dapat dihitung secara pasti.
Karya jurnalis atau wartawan yang ditayangkan di koran adalah karya yang sangat spesialis. Ada unsur kepribadian dan opini dari penulisnya dalam karya tersebut.
Seorang jurnalis juga merangkap sebagai sejarawan. Peran jurnalis tidak hanya menulis fakta, tetapi juga menggunakan seluruh indranya untuk menjadi saksi sebuah peristiwa. Tak heran jika ia kerap memasukkan pengamatan pribadi, kejadian saat wawancara, suasana, hingga detail penampilan narasumber ke dalam tulisannya.
Kini, penetrasi media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, dan TikTok membuka berjuta peluang kebaikan, sekaligus menimbulkan berbagai persoalan yang bergerak bagai bola liar dan siap memicu isu-isu baru.
Saya begitu merindukan kehadiran jurnalisme sejati yang kembali pada jati dirinya sebagai penjaga keseimbangan antara memberi tahu orang-orang mengenai apa yang ingin mereka dengar dan apa yang perlu mereka ketahui; apa yang mereka butuhkan, bukan apa yang mereka inginkan.
Menghabiskan satu atau dua jam membaca koran seperti membuka keran informasi dan pengetahuan yang tiada batas. Koran memberikan berbagai informasi penting yang kemudian kita simpan untuk dijadikan bahan tulisan. Sebuah proses kreatif yang perlahan ditinggalkan pada zaman kecerdasan buatan.
Pembaca koran seusia saya rasanya hanya menginginkan dua sisi dalam hidupnya. Yang satu dihabiskan di meja untuk menulis buku, sementara yang lainnya digunakan untuk bertualang ke tempat-tempat di mana peristiwa penting terjadi.
Dua hal inilah yang membangkitkan denyut hidup mereka. Sebab, mereka ingin hidup seperti apa yang mereka tuliskan. Dan mereka tidak akan menyerah.

Komentar
Posting Komentar