Teruslah Menulis

 

Pelajaran pertama untuk bisa menulis dengan baik adalah membaca.

Susunan abjad membentuk kata, lalu dirangkai menjadi kalimat, dan disusun dalam paragraf. Semua itu hanya bisa dipelajari dengan membaca berbagai bab dalam buku, narasi di berbagai media, dan cerita-cerita yang dituliskan.

Jangan menyepelekan membaca. Membaca bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperkaya perbendaharaan kata dan membentuk logika penulisan yang baik. Pilihan kata dalam sebuah narasi akan memudahkan pembaca mengenali siapa kita, bagaimana latar belakang kita, dan tentu saja apa yang ingin kita sampaikan.

Jika memang belum bisa menulis sesuatu yang berat, mulailah dengan menuliskan cerita sehari-harimu. Bisa berisi keluh kesah, apa yang telah engkau lakukan, dan diakhiri dengan evaluasi terbaik untuk dilakukan keesokan harinya.

Jika tidak bisa bercerita tentang apa yang kau lakukan hari ini, kumpulkanlah paragraf-paragraf terbaik dari berbagai bacaan yang engkau temui. Rangkai dan susun dengan menambahkan kata-katamu sendiri. Bukan menjiplak, melainkan belajar agar lebih mudah menghasilkan tulisan.

Tak usah kecut ketika dihujat. Teruslah menulis. Semakin terampil, semakin baik.

Ada banyak cara untuk menuliskan cerita dan gagasanmu. Bisa di kertas kosong atau diketik di telepon genggam. Namun, bagi saya, sangat menyenangkan ketika bisa mengetik di depan komputer meja dengan mengenakan celana pendek dan kaki bertelanjang tanpa alas.

Layar yang lebar menuntut otak untuk terus mengetik berbagai kata yang saling berhubungan. Mengetik di layar yang lebih kecil, dalam keyakinan saya, tidak memberi kesempatan untuk melakukan kilas balik atas apa yang sudah dituliskan dan menghadirkan kemungkinan terputusnya alur cerita.

Catatlah atau rekamlah dengan suara berbagai hal penting yang kita temui dalam berbagai kondisi dan tempat. Dari sanalah kita menemukan inspirasi untuk menghasilkan karya tulis.

Memang tidak setiap hari kita menemukan ide besar. Sama seperti tidak setiap hari terjadi peristiwa besar. Namun, sedikit demi sedikit mengumpulkan apa yang kita temukan di depan mata adalah upaya mengais bahan tulisan.

Bila memang ingin menuliskan sesuatu yang serius, prosesnya biasanya cukup panjang. Kemungkinan ketika tulisan itu berhasil disusun, orang setidaknya memiliki kesempatan untuk berpikir tentang apa yang hendak dilakukan setelah membacanya.

Pengalaman menjadi wartawan selama belasan tahun, saya dapat mengataka buatlah itu seperti mengangkat hal-hal yang tampak tidak penting menjadi terlihat penting.

Tuliskan apa saja yang menurutmu relevan dengan kepentingan orang banyak. Syukur-syukur jika tulisan itu juga memiliki makna karena kita membawa misi humanis.

Tidak usah terburu-buru seperti banyak orang sekarang. Setiap peristiwa harus segera disampaikan dan diviralkan di media sosial. Tidak semua yang dituliskan atau disampaikan penting bagi banyak orang. Ibarat hilangnya sebuah tempat minum di kereta api, bagi banyak orang hal itu tidak sepenting pemadaman listrik baru-baru ini.

Sebagai wartawan, saya menuliskan sesuatu untuk mengabarkan kepada orang-orang bahwa mereka mungkin sedang tidak baik-baik saja. Sebagai penulis, saya ingin menuliskan cerita yang membuat mereka tertawa atau setidaknya memunculkan gagasan nakal di kepala mereka.

Sebab itulah yang kiranya diperlukan oleh banyak orang sekarang. Mereka hidup dalam keteraturan yang paradoks. Seperti jutaan orang lainnya, mereka bangun pagi, bekerja, lalu tidur untuk mengulanginya lagi.

Selingannya hanya sibuk menyusuri jalan yang macet, terjebak di depan layar komputer, pulang larut dengan tubuh penat, lalu mencari hiburan dengan mengunggah hal-hal yang tidak penting di media sosial.

Santai saja. Tulis apa yang ingin dituliskan, lalu baca ulang. Itu adalah upaya agar kita dapat menyajikan tulisan yang lezat dan enak dibaca.

Menulis memang menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi menjadi wartawan. Di era sekarang ini, para wartawan bukanlah orang-orang sembarangan.

Dihantam gratisisasi berita, dituntut terus-menerus mengikuti berita viral, dan menghadapi pendapatan yang tidak jelas karena bisnis media tengah terpuruk. Namun para wartawan masih mengandalkan rezekinya dari menulis berita. Itu berarti mereka bukan orang sembarangan.

Kalau orang lain yang tidak memiliki ketahanan seperti itu, mungkin sudah menyerah dan berpindah ke profesi lain. Namun wartawan-wartawan kolot ini masih tetap turun ke lapangan. Mereka tidak ingin produksi berita mati.

Mereka percaya bahwa ketika berita atau sebuah koran mati, itu adalah pertanda matinya kecakapan publik. Sebab tidak akan ada lagi berita yang perlu dipertanyakan.

Dalam novelnya, Agatha Christie pernah menuliskan bahwa ia tidak menulis agar dibaca orang lain. Ia menulis karena jika tidak, tangannya terasa seperti mati. Ia memilih menulis karena setiap kalimat bisa dikoreksi hingga mencapai tingkat kepuasan yang diinginkannya.

Katanya, kalau sama-sama lapar, semua orang berdoa dengan bahasa yang sama. Kadang mereka tertawa, kadang saling diam. Namun tidak ada tuntutan untuk lebih dari itu. Tidak ada rencana.

Bagi Agatha menulis adalah cara terbaik untuk tidak mencarinya di batu nisan. Ia tidak di sana. Ia hidup di embusan yang kau hirup.

Jadi, ketika menghadapi paradoks yang menyakitkan, sibuk, tetapi tidak ke mana-mana, barangkali lebih mengasyikkan membuka botol sambil bercerita atau menyendiri di depan komputer lalu menulis hingga tengah malam.

Mulailah menulis. Jangan hanya menjadi pecundang yang tidak berani bertempur. Pemabuk saja berani meludahi presiden. Jangan pula menjadi makhluk yang terlalu percaya diri dengan berasumsi bahwa orang lain berpikir seperti kita dan selalu memiliki motif terburuk.

Mulailah bekerja, karena kerja keras adalah cerminan harga diri yang mesti dilakukan dengan sepenuh hati, sekaligus bentuk pertanggungjawaban kepada Tuhan dan keluarga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bergerak dan Berkeringatlah, Maka Engkau Ada

‘Dua Jaya’, Penambal Ban Paling Ampuh se-Kota Genteng

Banyak Waktu