Postingan

Sebaiknya......Kita Sedikit Tahu

Gambar
Saya mencupliknya dari sebuah buku yang betul-betul membahas area Pasar Kembang, Kota Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai kawasan portitusi di Kota Gudeg. Tidak diakui secara resmi oleh Pemda, namun keberadaan Sarkem, akronim dari Pasar Kembang, mampu menjadi obyek wisata malam sekitar Malioboro. Ketika masih di Bali, seorang pelaku pariwisata senior dengan tegasnya menyatakan dunia pariwisata di seluruh dunia itu hanya itu bisa berkembang pesat jika mengandalkan tiga faktor yaitu pasir atau pantai. Kemudian pemandangan indah saat matahari terbit maupun terbenam. Dan terakhir adalah seks. Di dunia pariwisata, ketiganya biasa dikenal dengan 3S (Sand, Sunrise/Sunset, Seks). Jika sebuah daerah memiliki salah satu dari tiga faktor tersebut maka, bisa dipastikan kawasan itu mampu diandalkan mengeruk pendapatan dari dunia wisata. Tapi jika sebuah daerah memiliki ketiganya, bisa dipastikan mereka akan menjadi obyek wisata adalan sepanjang jaman. Salah satunya Bali. Tapi sa...

Apa yang saya sukai di pantai selatan Bantul?

Gambar
Saya menyukai kegelapan yang dimilikinya. Hanya dengan mata telanjang, saya bisa dengan tenang melihat berbagai rasi bintang yang berabad-abad menjadi mesin informasi nan akurat bagi nelayan dan petani. Bahkan peradabab manusia lahir dari mempelajari berbagai bintang yang terpapar jelas di langit saat malam hari. Bintang seperti memberi petunjuk yang pasti apa yang harus dilakukan manusia dan tentang apa yang akan terjadi di beberapa masa ke depan. Rasi Pari di selatan. Rasi Scorpio di timur. Kejora barat dan gubung penceng di utara. Mereka hanyalah bagian kecil dari Galaksi Bima Sakti. Sama seperti kita, manusia dihadapan Sang Maha Tunggal. Berbicara tentang langit, kita mau tidak mau harus berbicara tentang masa depan. Bukan masa depan setelah kematian. Tapi masa depan kehidupan manusia. Jika suatu saat bumi, sebagai satu-satunya planet yang berputar pada Matahari yang bisa dihuni, sudah tidak memungkinkan lagi ditempati. Maka manusia harus berimigrasi ke satelit-sat...

Media Vs Pemimpin

Ketika membaca berita tentang Prabowo Subianto yang menyatakan bahwa wartawan bergaji kecil karena dari muka kelihatan tidak pernah ke mall.( Baca  https://nasional.tempo.co/read/news/2017/08/17/078900874/prabowo-sebut-gaji-wartawan-kecil-tak-pernah-belanja-di-mal ) .  Saya teringat tulisan di Kompas (13/8/2017) Dalam artikel berjudul “ Perang Vs Media Ala Netayahu-Trump” dipaparkan dengan terang bagaimana kedua pemimpin besar itu menyerang secara terbuka kebijakan media massa yang selama ini menjadi oposisi di negara masing-masing. Bukannya saya hendak membandingkan Prabowo dengan kedua pemimpin besar dunia itu. Namun dari pernyataannya yang langsung ditujukan kepada wartawan usai melaksanakan Upacara Benderan Kemerdekaan NKRI ke-72 di UBK Jakarta, saya melihat Prabowo menyerang secara halus kalangan media massa yang selama ini terkesan memojokan dia. Jika boleh bicara terus terang. Apa yang dinyatakan Prabowo itu memang benar adanya. Sebagai sebuah pilihan, pr...

Sekedar Bicara Literasi

Gambar
Saya dan, kemungkinan anda, masih ingat tentang tugas pembuatan kliping dari guru saat masih sekolah dulu? Tugas yang ringan sebenarnya, namun mengerjakannya dibutuhkan pengorbanan waktu dan dana yang tidak sedikit. Mudah. Ya bisa dibilang penugasan kliping ini sangat mudah. Kita hanya mencari koran/majalah/tabloid yang memuat atau memaparkan gagasan hal atau sesuatu yang sudah ditentukan. Setelah dapat, dipotong kemudian ditempel di kertas kerja. Jika memungkinkan, sambungan berita sebisa mungkin dijadikan satu. Jika tidak, tidak apa-apa. Bisa dilakukan sendiri-sendiri. Namun untuk mengasah rasa sosial dan kerjasama, biasanya penugasan khusus mencari ide/gagasan yang besar dikerjakan secara berkelompok. Sederhana dan mudah. Penilaian diberikan guru terhadap kliping yang memiliki kelengkapan data lebih bagus, tampilannya, serta sumbernya. Menjadi tidak mudah. Adalah saat penugasan ini diharuskan mencari berita-berita yang dimuat di tanggal dan koran tertentu. Jika k...

Beda T dan N

Gambar
Setelah mengangkat sembah kepada Gurunya, Dharma tidak berani memandang mata orang tua yang duduk dengan tenang di depannya. Baginya, semua persoalan yang sebenarnya ingin disampaikan ke Gurunya sama sekali luntur tidak berbekas. “Apa yang ananda pikirkan? Jalani saja semuanya dengan tekad. Karena tekad itulah yang menjadi api semangat kehidupan,” kata Guru kepada Dharma. Dharma begitu malu dengan ucapan Gurunya. Karena memang itulah yang hendak ditanyakan. Apa sejatinya hidup ketika tanpa ada tekad? Tanpa bertatap muka, Guru yang telah membimbing Dharma sepuluh tahun di padepokan berujar dengan suara tegas namun penuh pengertian. Makna dalam Sansenkerta disebut Adhitthana. Tekad diperlukan sebagai landasan dasar menuju keberhasilan. Tekad adalah keputusan awal yang dilakukan seseorang untuk menghancurkan keragu-raguan. Jika masih ada keraguan untuk kehidupan, itu sama artinya tidak ada tekad dalam jiwanya. Dharma masih tetap dia membisu. Baginya tekad inilah yang s...

Gawai dan Kelahiran Ide Besar

Jadi, sekarang adalah puncaknya era internet. Dengan gawai, setiap orang menemukan dunia sempit yang setiap waktu terus berputar dengan hal baru. Mereka dekat tapi jauh dan jauh tapi dekat. Tapi bisakah dengan kemajuan sekarang ini, manusia dapat melahirkan ide besar yang berpengaruh dalam kehidupan seperti masa lalu? Membaca tulisan Timothy Egan di nytimes.com (7/7/2017), saya terperanjat dengan gambaran yang disampaikan. Baginya, sekarang dan kedepan, lahirnya ide besar dalam kehidupan manusia tidak akan pernah ada lagi. Berbeda dengan belum munculnya ketergantungan akan internet. Buku dan semua media baca cetak adalah mesin utama untuk mencari pengetahuan. Kelahiran kebudayaan manusia baru dimulai dari mesin Gutenberg pada abad 13 yang sampai sekarang masih tersimpan utuh di Old Town, Jenewa, Swiss. Mesin ini mampu mengubah dunia dengan penemuan-penemuan dan ide besar yang mencengangkan. Bermula dari mencetak satu buku dalam setahun, perlahan-lahan dalam dua abad kemudian mes...

Bisa Dibayangkan

Berawal dari status seorang kawan yang menyatakan “Apakah kemunduran media cetak, khususnya koran dalam lima tahun terakhir diakibatkan mismanajemen atau berakhirnya era koran?”. Dalam lima tahun terakhir, Serikat Perusahaan Pers Indonesia (SPSI) mencatat hampir 400 media cetak nasional maupun lokal memilih mengundurkan diri dari publik karena rendahnya penjualan dan pemasukan dari iklan. Padahal secara umum, media cetak mengandalkan pemasukan dari penjualan 40% dan iklan 60%. Perubahan tingkat konsumsi masyarakat akan informasi kiranya menjadi aspek utama kemunduran media cetak. Dengan kecepatan sajian informasi dan lebih memudahkan mengakses, media digital saat ini menjadi pilihan utama masyarakat. Bahkan ketika informasi yang disajikan adalah informasi yang belum tentu kebenarannya. Namun karena terus-menerus diinduksi ke khalayak tanpa mengenal waktu. Maka informasi itu dijadikan pembenaran. Kembali ke pertanyaan awal tadi. Untuk menjawab kedua pertanyaan tadi kiranya ...