Postingan

Bermotor Yogyakarta-Tegal-Yogyakarta

Gambar
      Awalnya kebingungan mencari sudut pandang agar tulisan ini menarik dan bagus. Usai menempuh perjalanan panjang, 450 Km lebih dalam waktu kurang dari 36 jam. Otak harus diperas keras-keras untuk menghasilkan satu tulisan. Membaca tulisan rekan-rekan lainnya begitu kilat dipublikasikan, saya berpikir keras untuk menghasilkan karya yang berbeda tanpa harus keluar konteks yang disepakati pada semua tulisan. Perjalanan panjang dan lelahnya badan, ternyata masih bisa saya paksa untuk menghasilkan karya dengan sudut pandang berbeda. Saya tayangkan di KabarJogja.id, ketiga tulisan dalam langsung menempati posisi lima besar berita terpopuler. Saya tampilkan di sini bukan untuk pamer, namun sebagai upaya mendokumentasikan agar tidak lekas hilang. Selama menikmati.      Sepuluh Jam Penuh Tantangan Saat Bermotor Dari Yogyakarta ke Obwis Guci Ditargetkan bermotor hanya enam sampai tujuh jam saja, namun perjalanan dari Yogyakarta menuju obyek wisata peman...

Bertobat Jangan Setengah-setengah

Gambar
    Tiba-tiba teringat, bermain judi lempar koin Rp100,- nikel di belakang bangku kelas. Tiba-tiba teringat, menangis dengar jeritan Ari Anggara dari kaset tape yang disetel keras-keras tetangga. Tiba-tiba teringat, setiap Minggu bertamu ke tetangga sekedar menonton kartun TV hitam putih. Tiba-tiba teringat, ketakutan di gelap malam ketiga muncul ‘Grandong, Grandong’ dari drama radio. Tiba-tiba teringat, bermain pistol bambu berpeluru bakalan jambu atau rendaman koran. Tiba-tiba teringat, berkeliling untuk mandi di berbagai kanal dan sungai kota kecil kelahiran. Tiba-tiba teringat, ahli menghidupkan lampu petromaks. Tiba-tiba teringat, menaiki vespa kali pertama naik motor. Tiba-tiba teringat, merokok lalu minuman keras. Berjudi, kalah banyak dan kapok sampai sekarang. Tiba-tiba teringat, konsumsi ganja dan sabu-sabu. Dua dimensi kucumbu. Tiba-tiba teringat, bermain Playstation di akhir pekan dan tak pernah pulang. Tiba-tiba teringat, lulus SMA di sepuluh terbawah murid IPS. T...

ASRI-KINGKOK Pada Seruas Jalan

Gambar
  Foto ini terkirim ke rumah emak di Genteng, Banyuwangi pada pertengahan minggu pertama Mei tahun ini bersama pemberitahuan saya tertilang karena tidak menggunakan helm.  Dalam upaya konfirmasi online, tercatat foto diambil pada Jumat (12/4) sekitar pukul 15.00 WIB. Saya mencoba menebak di mana tepatnya foto diambil lewat kamera perekam lalu lintas milik Polri. Berdasarkan pemahaman dan gambaran masa lalu, kemungkinan besar foto diambil oleh kamera yang terpasang pada lampu merah perempatan timur terminal Genteng. Karena perempatan itulah titik keramaian lalu lintas di Kota Genteng sebelah barat. Selalu saya sebut kota, meskipun kondisi jalan-jalan di sana masih banyak terdapat kerusakkan sejak saya tinggalkan 24 tahun lalu.   Saya tidak akan menyanggah pelanggaran yang terbukti sudah saya lakukan. Saya juga tidak akan berkomentar panjang lebar kenapa saya tidak menggunakan helm saat berboncengan dengan putri pertama saya, Nenas. Mungkin juga bersama Hayu, yang bera...

Aku Percaya Pada Tuhan, Meski Ia Diam Tersembunyi

Gambar
Didikan jalanan menjadikan saya berani. Berani dengan tidak lagi memakai otot, namun sepenuhnya menggunakan otak. Kekerasan atas nama balas dendam saya wujudkan dalam bentuk cantik, namun sangat menyakitkan bagi lawan. Mungkin memang saat ini jalan takdir saya sampai pada fase kelelahan menjalani kehidupan. Meski tidak berhenti berdoa dan terus berusaha. Terkadang saya berpikir apakah sebaiknya saya mengalah dan tak meminta siapapun memahami keadaan lagi. Namun, pergulatan itu tidak panjang. Hanya sepemikiran menjelang mata terpejam. Keberanian yang tumbuh bersama kali pertama mengenal debu jalanan muncul kembali. Keberanian sejati dan sebenar-benarnya. Keberanian menjalani hidup dan menderita demi sesuatu yang selama ini saya percaya. Berimajinasi dan merangkai kata. Saya memutuskan tetap bertahan dan terus berjuang. Saya sudah mencobakan menenangkan diri. Terus memikirkan apa kesalahan yang telah diperbuat dan bagaimana memperbaikinya. Namun pada tahap itu saya tetap buntu. Belum ber...

Kemarin Malam, Ada Masalah Lagi

Gambar
Mungkin pikiran saya terlalu kolot ketika mendapat tanggung jawab untuk menjadi salah satu pengurus di masyarakat. Saya tertinggal sangat, sangat jauh dengan pemikiran generasi Z yang begitu maju. Bahkan dalam adab dan etika bergaul di lingkungan, saya kalah telak. Seingat saya, ketika pertama kali memasuki komunitas dan tinggal di dalamnya. Seingat saya, pertama kali yang harus dilakukan adalah memperkenalkan diri kepada penghuni awal komunitas tersebut. Kalau di negara kita, proses perkenalan diri yang wajar itu adalah dengan menemui pengurus komunitas dan memberikan salinan data diri kita untuk diketahui serta menjadi catatan mereka. Tidak lupa juga menyampaikan tujuan kita berada di lingkungan komunitas itu. Terpenting, setelah diterima kita harus mematuhi dan menaati kesepakatan-kesepakatan yang telah mereka jadikan dasar agar komunitas mereka rukun, nyaman, dan aman. Di Surabaya, Jakarta, Bali, dan terakhir Yogyakarta. Saya selalu menjalani prosedur itu. Baik saat masih kost maup...

Makan

Gambar
Dalam teori sosial, tiga hal penting yang dibutuhkan manusia ; Pangan, Papan dan Sandang. Soal pangan, ini merupakan kebutuhan manusia yang paling mendasar. Sama seperti berkomunikasi dan bergerak. Bercerita tentang makan. Saya selalu berpegang teguh pada omongan rekan kuliah saya di Surabaya, Yoga yang sekarang berdomisili di Malang. Dia berkata,: ‘Bagi orang yang berpendapatan rendah, soal makan mereka akan bekata. Apa yang kita makan hari ini?’ ‘Bagi mereka yang memiliki pendapatan agak lebih atau kelas menengah. Soal makan akan selalu berkata makan apa kita hari ini?’ ‘Dan bagi mereka yang berkelebihan atau kaya, persoalan makan tidak akan pernah lepas dari pertanyaan makan di mana kita hari ini?’. Sampai sekarang saya selalu berprinsip pada pernyataan pertama. Lapar adalah lauk terlezat bagi apapun makanan yang akan kita makan. Dengan rasa lapar, saya bersyukur akan kenikmatan yang Tuhan berikan hari itu. Rasa lapar menjadikamu sosok yang tidak pernah menyerah dan sela...

Kami Ingin Mandiri Mendapatkan Kekayaan dan Kejayaan

Mudah sekali kalian mengumbar ‘nrimo ing pandum – nrimo ing pandum’. Kalian besar-besarkan itu untuk menutupi ketidakmampuan kalian menjadi pemimpin yang didapatkan tanpa perjuangan. Pada dasarnya kalian mengumbar kata-kata itu untuk tetap melanggengkan kehidupan bahagia yang kalian dapatkan sejak kalian masih menjadi sperma. Terlahir kaya, mendapatkan kerja yang dibayar negara dengan mudah, itupun masih mendapatkan triliunan dana hibah yang dibungkus kata-kata budaya. Sedangkan kami, para pemburu rupiah harus terpontang-panting tanpa jaminan bakal bergelimang rupiah. Bukannya kami tidak mau meminta kekayaan orang tua kami seperti kalian. Tapi kami ingin mandiri mendapatkan kekayaan dan kejayaan kami. Tanpa pernah harus menjadi penjilat yang menjijikan. Kami memilih kota ini karena kami yakin kehidupan kami akan lebih baik dibandingkan dengan kehidupan di kota sebelumnya. Kami bukan menyalahkan pilihan. Tapi kami menyalahkan pemimpin kota ini. Pemimpin yang hanya bisa mengobral kata-ka...