Postingan

Soal Seragam Sekolah Negeri, Tinggal Kemauan Gurunya (II)

Gambar
Padahal dibalik pengajaran moral, beberapa guru melakukan hal-hal yang tak bermoral. Contoh kecil jamak dilakukan sekarang. Memaksa para orang tua untuk membeli seragam ketiga setelah warna putih dan pramuka. Seragam batik yang memuat identitas sekolah. Jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah. Tergantung nilai yang ditentukan sekolah. Memang sekolah di negeri itu tidak bayar. Tapi juga perlu dipikirkan, bahwa masuk sekolah negeri itu penuh persaingan. Kecuali SD. Karena tidak berbayar dan lebih murah dari swasta, namun itu bukan berarti para wali murid bisa dibebankan dengan biaya-biaya yang tak bermanfaat itu. Seragam cukul putih, pramuka dan olahraga. Identitas sekolah bisa ditempelkan pada seragam. Toh itu tidak menghilangkan nama sekolah selama prestasi anak membanggakan. Kenapa, kenapa pendidik melakukan itu? Sebenarnya saya sulit untuk menemukan penyebab kenapa pendidik melakukan hal-hal sepele yang diluar tugasnya mengajar. Terlebih lagi sekarang mereka dituntut menerap...

Soal Seragam Sekolah Negeri, Tinggal Kemauan Gurunya (I)

Gambar
Kasusmemaksakan siswi menggunakan jilbab oleh guru-guru BP SMAN I Banguntapan menggegerkan dunia pendidikan Indonesia. Khususnya Daerah ter-Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai ‘Kota Pendidikan’, ‘Kota Keberagaman’, dan predikat kota-kota positif lainnya. Nyatanya kebobrokan masih ada di Kota ini dan  lebih dominan diberitakan, karena memang layak diberitakan dibanding peristiwa serupa di daerah lainnya. Sebab kontra produktif antara jargon, slogan dengan kenyataan. Kasus ini mengingatkan pengalaman saya terhadap Nenas saat masuk SDN Bibis, Bangunjiwo lima tahun lalu. Sempat protes kepala sekolah kenapa Nenas yang masuk tidak pakai jilbab saat baris-berbaris dipaksa satu gurunya menggunakan jilbab. Saya protes, jawaban mereka karena itu aturan yang berlaku. Karena tidak ingin geger gedhen, bukan takut. Tapi karena kuatir anak saya dirundung oleh gurunya sendiri, saya memilih diam. Memendam bara kegetiran dalam hati sampai sekarang. Kasus SMAN I Banguntapan. Kasus yang a...

Mana yag lebih kuat; kematian atau kehidupan?

Gambar
  Ada dua sesi dalam novel ‘Baudolino’-nya Umberto Eco yang aku suka. Semua sama-sama satu rangkaian perjalangan Baudolino dan teman-temannya mencari istana Yohanes  Sang Pembaptis.   Sesi pertama yang saya sukai adalah saat rombongan ini bertemu dengan sekelompok masyarakat bertelanjang dan sepenuhnya mengandalkan hidupnya pada kemurahan alam. Mereka memilih tidak bekerja dan mengandalkan kejujuran sebagai jalan keselamatan. Pada halaman 477….terkutiplah ‘Jumlah mana yang lebih besar, jumlah orang hidup atau orang mati?” “Yang mati jumlahnya lebih besar, tetapi mereka sudah tidak dapat dihitung lagi. Jadi yang bisa kaulihat lebih banyak daripada yang tidak bisa engkau lihat,”. “Mana yag lebih kuat; kematian atau kehidupan?” “Kehidupan, karena kalau terbit, matahari punya sinar yang terdang dan indah sekali. Dan kalau terbenam, sinarnya kelihatan lemah.” “Mana yang lebih banyak, bumi atau laut?” “Bumi, karena laut disangga bumi,” “Mana yang lebih du...

Kota Pendidikan, Sampah dan Kota Setengah Gila

Gambar
Selain Malioboro, Klitih, Parangtritis apa yang anda ingat tentang Yogyakarta? Bagi pelancong diksi ‘Istimewa’, ‘Penuh Kenangan’ dan ‘Setiap Sudut Romantis’ adalah pilihan konvensional. Terutama bagi yang baru pertama kali ke Yogyakarta. Bagi mahasiswa baru, diksinya berbeda. ‘Murah’, ‘Banyak Cafe’ dan ‘Masih Suasana Desa’ tentunya menjadi kata-kata sihir yang diturunkan dari senior dan yunior. Bagi warga yang sudah lama tinggal di Yogyakarta, pilihan katanya bertolak belakang. Yaitu ‘Sampah’ dan ‘Danais’. Dua kata yang berbeda, namun ketika disebut secara terbuka banyak cerita di baliknya. Saya tak akan bicara tentang Danais, karena itu sudah banyak dibahas oleh orang-orang pintar di Yogyakarta dan tertulis pada sisi belakang kaos tukang becak motor. ‘Kemanakah Danais?’. Saya bicara tentang sampah. Perilaku manusianya dan tentang tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Piyungan yang amburadul. Kedatangan dan Presiden Jokowi merayakan lebaran tak menarik untuk saya liput. ...

Bergerak dan Berkeringatlah, Maka Engkau Ada

Gambar
  Jika tidak bergerak, engkau menjadi malas. Jika malas, tubuhmu penuh sampah makanan. Jika banyak sampah, tubuhmu tumbuh gendut. Jika gendut, engkau mudah sakit. Jika sakit, engkau tidak bisa berpikir. Jika tidak berpikir, engkau tak produktif. Jika tak produktif, engkau jatuh miskin. Mantra ini saya ucap berulang kali ketika memulai jogging. Meski tidak rutin, saya selalu menjadwalkan jogging di akhir pekan. Tidak masalah berapa lama waktunya. Asalkan bergerak dan mengeluarkan keringat. Sudah melegakan. Di usia saya, kesempatan kedua dalam sepanjang usia manusia. Kiranya hanya ada dua investasi yang bisa dilakukan. Menabung uang untuk masa depan keluarga dan pendidikan. Rutin berolahraga agar tidak mudah sakit. Sakit itu mahal. Saya memilih jogging karena murah. Hanya dibutuhkan sepatu dan niat melangkah. Sebuah langkah kecil untuk perjalanan panjang dan penting. Awalnya memang jalan, seiring waktu tubuh kita akan memaksa untuk berlari kecil. Tidak perlu bia...

Penanya Hujan Itu Sudah Tak Ada Lagi

Gambar
“Jawah ora kono (Hujan tidak sana)?” katanya saat bertemu 13 tahun silam. Kala itu saya mengantar anak gadisnya pulang untuk pertama kalinya.  Pada kunjungan kedua, saya melamar anak gadisnya dan bertahan sampai sekarang. Saya agak kikuk juga untuk menjawabnya. Pertama karena saya tidak paham artinya saat itu. dan kedua ketika saya paham artinya, saya bingung menjawabnya. Kala itu jelas-jelas musim panas, kenapa menanyakan hujan. Pertanyaan yang aneh bagi saya yang berprofesi sebagai penanya. Setelah menjadi anak mantunya, pertanyaan yang sama selalu diajukan ke saya baik saat saya menjenguk dan bersilaturahmi ke beliau. Maupun saat beliau ingin melihat putri bungsunya di Mbantul. “Hujan tidak di sini?” tanyanya usai mendudukan dirinya pada posisi yang nyaman di rumah saya tak berkursi. Terus terang jawaban yang saya berikan tentu saya sesuaikan dengan kondisi atau cuaca yang saat itu terjadi. Jika sedang hujan, saya jawab hujan. Jika panas saya jawab panas. Yang mengherankan meski...

Perihal; Kredo Lima ‘M’ Di Gedung Dewan Malioboro

Gambar
  Sore ini di salah satu group, saya membaca ada dua kiriman naskah berita tantang pernyataan orang yang kemarin habis diberitakan. Dalam seminggu ini, sosok yang berprofesi sebagai anggota Dewan Malioboro atau wakil-nya rakyat itu tampil sebanyak tiga kali di banyak media. Kerja yang luar biasa. Asal tahu saja, tidak banyak sebenarnya wakil rakyat di Indonesia ini yang doyan tampil di media. Rata-rata mereka bersembunyi dari kejaran para kuli tinta. Kondisi ini sepengetahuan saya tidak hanya terjadi di tingkat daerah. Kabupaten/Kota atau Provinsi, tapi di tingkat pusat juga sama. Sebisa mungkin menghindari para kuli tinta. Kecuali mereka yang menjadi oposisi. Mereka akan meminta bantuan untuk menyebarkan kritikan mereka. Itu kadang kala saja. Sisanya adalah kata-kata setuju. Dalam praktek jurnalisme, ada pameo yang mengatakan kehidupan politisi dan wartawan itu tidak akan pernah bisa akur. Mereka tidak bisa jalan atau sepakat dalam sebuah pendapat yang sama. Mereka akan se...