Postingan

Kenangan Akan Mantan

Gambar
Dalam pembicaraan santai sore itu, Senior yang saya menghormati mengajukan pertanyaan sepele. Walau sepele, namun bagi saya butuh sekitar lima menit menemukan jawabannya. “Apa kenangan yang kamu miliki atas mantan pacarmu? Atau jangan-jangan kau tidak pernah punya mantan?,” katanya. “Aku pernah pacaran, tapi hanya sekali. Itupun menjelang akhir kuliah. Ya masa SMA-ku banyak kuisi dengan kenakalan agar jika sudah berkeluarga aku sudah bertobat,” ujarku. “Jadi apa kenangan akan mantanmu?,” “Sambal pecel. Baginya sambal pecel yang enak berisikan banyak kacang saat membuatnya. Awalnya aku tidak percaya,” kataku. Sambil merokok saya bercerita, kami berpacaran jarak jauh. Jadi bisa dikatakan satu bulan sekali bertemu karena saya harus mengumpulkan uang dulu untuk berkunjung ke kotanya. Jadi seluruh biaya ke sana adalah jatah dua minggu makan siang hilang. “Tapi demi cinta, semua sangat irasional dan kami berjalan hampir setahun,” lanjutku. Barulah saya menya...

Membaca Koran...

Gambar
“Terkadang saya menemui beberapa orang yang menyatakan tetap membaca koran. Bagi mereka, koran merupakan bagian terpenting dalam menumbuhkan minat baca, warisan orang tua mereka. Sampai sekarang mereka masih berharap koran terus ada dan menjadi pegangan di era banjir bandang informasi,”. (Bre Redana dalam ‘Di Atas Prameks’) Ketika masih di rumah, Bapak saya sering menegur untuk tidak membaca koran sebelum dia membacanya. Bapak adalah orang pertama yang wajib membaca koran di bengkel kami. Bahkan ketika saya usai membacanya, Beliau kembali mengingatkan agar menata koran sesuai halaman. Tidak terpencar-pencar, sehingga ketika dibawa pulang bisa ditumpuk rapi di rumah. Hampir delapan tahun lebih membantu di bengkel, seharipun saya tidak terlepas dari koran. Hingga sekarang Jawa Pos masih menjadi rujukan bapak mendapatkan informasi. Saya kira, beliau tidak percaya televisi. Sebab pernah di suatu hari beliau berkata, “Menonton televisi menyia-yiakan waktu kerja dan istirah...

Penampilan Wayang Kardus Di Perumahan Saya

Gambar
Sebelum saya menulis lebih jauh. Saya pribadi dan mungkin mewakili warga perumahan mengucapkan permohonan sebesar-besarnya kepada budayawan wayang. Apa yang kami lakukan ini bertujuan hiburan semata, tidak ada maksud lain. Mengingat kesuksesan penampilan ketoprak mini ‘Bawang Merah dan Bawang Putih’ di tirakat dua tahun lalu yang berhasil menghadirkan gelak tawa warga di malam tirakatan 17 Agustus. Bapak-bapak menjawil saya untuk bergabung dalam pertunjukan serupa tahun ini. Saya mengiyakan. Setahun sekali tampil berbeda dengan menghibur warga kiranya tidak membuat hidup saya bertambah beban. Toh penampilan di atas panggung tidak ada artinya dibandingkan dengan perjuangan pahlawan kemerdekaan. Tanpa babibu, singkat kata terkumpul enam bapak-bapak lainnya termasuk saya. Pak Asep, Pak Heri, Pak Nanang, Pak Doni, dan Pak Ryan. Dua malam sebelum pentas kami rapat singkat. Dengan musyawarah mufakat, atas usulan Pak Asep ketoprak mini mengambil settin...

Politik Dalam Rokok dan Anti Rokok

Gambar
Muhammadiyah Tobacco Control Center Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (MTCC UMY) pada Selasa (22/8) merilis bahwa kenaikan harga rokok yang optimal adalah cara tepat kampanye anti rokok di Indonesia. Kenaikan harga rokok optimal merupakan cara ampuh mengurangi jumlah perokok. Praktisi Kedokteran Keluarga dan Kesehatan Global, MTCC UMY, April Imam Prabowo menyatakan dalam laporan yang dirilis Kementerian Kesehatan pada 2017 lalu. Terjadi pertumbuhan perokok pemula dengan kisaran usia 15-19 tahun menembus angka 23,1 persen dari total jumlah perokok aktif di Indonesia. Angka itu naik hampir dua kali lipat dari 15 tahun sebelumnya yang berkisar pada 12,7 persen. Dengan kondisi ini, jumlah perokok remaja laki-laki menembus angka lebih dari separuh dari jumlah total perokok di Indonesia yang diperkirakan mencapai 90 juta orang. Angka persentasi jumlah perokok remaja laki-laki sebesar 54,8 persen. MTCC UMY memastikan terjadinya peningkatan jumlah perokok pemula di Indonesia ...

Guru-guru Yang Mengkhianati Bangsa

Gambar
Membaca berita tentang penampilan anak-anak TK Kartika V-69 dalam Pawai Kemerdekaan RI Ke-73 di Probolinggo, Jawa Timur Sabtu (18/8) lalu membuat saya terhenyak. Beralasan memilih tema ‘Perjuangan Rasulullah Meningkatan Keimanan’, para siswi didandani dengan pakaian mirip hijab serba hitam yang hanya memperlihatkan mata saja sambil menenteng replika senapan serbu di karnaval kebangsaan. Sebuah anomali ditengah perlawanan negara terhadap pahan radikalisme dan intoleransi yang beberapa tahun berkembang pesat. Permintaan maaf dari Kepala Sekolah TK Kartika V-69 Hartatik kepada publik rasanya tidak akan cukup. Menggingat sebagai seorang guru yang memiliki tugas besar memupuk semangat keberagaman Indonesia, Hartatik gagal dalam menjalankan kewajibannya. Satu dari dua kasus yang saya lihat dengan mata sendiri, betapa sekarang ini kalangan guru-guru begitu masif terpapar paham radikalisme dan intoleransi. Terutama di kalangan guru-guru sekolah negeri baik dari mulai ti...